Selamat Bersiap untuk Kemudian Berangkat!






"Jangan sampai sudah main hati, tapi orang tua tidak bisa menerima, malah ujung-ujungnya sakit hati. Jangan yaa.”
Hai, Kak! Terima kasih untuk tidak hadir disaat aku merasakan kepayahan beberapa terakhir ini, bahkan ketika aku mengetik tulisan ini pun aku juga sedang dalam kepayahan.  Tapi tenang saja, segala kepayahan ini teramat remeh buatku, dulu aku bahkan pernah merasakan kepayahan yang jauh lebih dahsyat ketimbang ini.

Hari ini aku ingin mendiskusikan tentang banyak hal, aku berusaha menahan agar tidak mengatakannya kepadamu,, tapi perkara usia siapa yang tahu,, barangkali sebelum Allaah perkenankan kita menyatu dalam akad suci yang mampu menggetarkan arsyNya, maut lebih dulu menyapaku,, Tidak ada yang tahu perihal itukan, kak?

Semakin banyak merenung, semakin banyak menunduk, pun semakin sedikit air mata yang tumpah,, Sekarang Allaah pahamkan aku, bahwa hampir 12 tahun aku mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi,, bukan untuk mengusai bidang ilmu, meraih pekerjaan bergengsi, deklarasi puji dari manusia, lebih-lebih untuk menandingi kamu sebagai suami nanti. Bukan, bukan tentang itu, tapi adalah tentang proses pendewasaan dalam bangku pendidikan ini. Sekarang aku semakin sadar kak, memutuskan untuk menikah dengan orang yang berbeda latar belakang keluarganya, pola pengasuhannya, dan banyak hal lainnya yang berbeda pastinya,, tentu tidak mudah! Sangat tidak mudah!

Ketahuilah, Kak. Aku tidak sedewasa tulisanku, aku tak sebijak dari tulisanku yang kamu baca. Aku hanya gadis manja yang berpura-pura dewasa, sok bijak dan ya begitulah. Tak ada yang istimewa.  Tapi, tak bisa aku bohongi bahwa aku bagaikan sebuah mesin yang tak henti bekerja,, layaknya peluru yang terus meluncur menembaki sasaran,, ya  memang tak ada yang istimewa dariku, tapi aku bersyukur ketika Allaah lebihkan padaku semangat untuk terus belajar sehingga aku bisa mengetahui, mengenal dan paham banyak hal,, pastinya hal yang semakin mendekatkan hamba kepada RabbNya. 

Tak usah berbohong, kakak pasti ngantuk kan baca tulisan ini,, tak mengapa! Aku tidak memaksa kakak untuk membacanya.

Jujur, aku pernah bertanya kepada Bapak,, kakak belum mengenal Bapak kan?,, kelak kakak sendiri yaa yang memperkenalkan diri kakak ke Bapak, semoga kalian berdua nanti bisa klop haha.
Bapak adalah cinta pertamaku, apaan sih. Tapi ya begitulah realitanya. Aku selalu suka cara Bapak memperlakukan mamak. Sejauh aku melihat, sejauh aku merasakan,, belum pernah Bapak berkata kasar dan bertindak kasar kepada mamak. Bapak sangat memuliakan mamak, Kak. Dan barangkali karena kelembutan Bapak kepada mamak tanpa menghilangkan ketegasan dan kewibawaan Bapak yang mampu membuat aku jatuh hati pada Bapak.

Suatu hari kepada Bapak aku bertanya, "Pak, apakah seluruh manusia harus menukah? Kalau Mbak gak mau nikah, boleh gak? Mbak udah bahagia hidup seperti ini bersama Mamak, Bapak, Abang kenal, Abang prayit,, dan Mbak tidak merasa kekurangan bahkan kelebihan. Bolehkan Pak?" 

Bapak hanya tersenyum menatapku dalam dan memelukku erat, kemudian berkata, "Kelak kehidupan ini yang akan menjawab pertanyaanmu, Nak. Bersabar saja." 

Dan benar adanya sekarang aku paham kenapa manusia harus menikah. Bukan berarti dulu aku feminist yaa haha. 


Oh ya kak, perihal Bapak,, Tenang kak, aku tak akan mungkin memintamu untuk memiliki karakter seperti Bapak. Aku tak seegois itu. Jelas tidak mungkin, karena Bapak dan kakak adalah dua insan yang berbeda. Aku takkan sejahat itu memintamu harus seperti Bapak, jadi tak perlu khawatir ya.

Tapii, kalau boleh memintaa,, kalau kakak marah jangan sampai melukai yaa, jangan sampai melukai diri kakak maksudnya. Kata Bapak, kalau suami marah kepada isteri dan kemudian memukul isterinya, sebenarnya kalau suami itu benar-benar cinta pada isterinya,, suami itu akan merasa terluka batinnya karena telah memukul isterinya. Jadi kakak pahamkan maksud, Nila?  Dan, sebisa mungkin aku akan berusaha menjadi teman hidup yang baik sehingga tidak perlu memancing amarah kakak dan sebaliknya bisa menjadi peredam ketika kakak marah. Walau sejujurnya aku tidak tahu apakah aku bisa, tapi, mamak dan mbak Alif (isteri Abang) selalu menasehatiku perihal bagaimana bersikap kepada suami nanti. Jujur aku selalu menahan tawa ketika mengingat nasihat-nasihat dari mamak dan Mbak Alif tentang pernikahan  sejak aku SMA,, dan sekarang aku yang malah lebih intens bertanya perihal bagaimana menjadi isteri yang baik, ibu yang baik, pola asuh yang tepat, dsb. Padahal pacar saja tidak punya(memang harusnya tidak perlu yaa wkwkkw), tanda-tanda jodoh akan datang juga tidak ada karena memang dari diri sendiri juga belum siap. Btw, aku punya standar kesiapan menurut versiku kok, jadi gak asal bilang belum siap.  Tapi menyiapkan ilmu memang sudah seharusnya. Iya kan kak?

Memang sih kebanyakan orang menganggap aku begitu cuek perihal masa depan berupa pernikahan. Tapi andai mereka tahu, aku adalah orang yang paling care perihal itu. Aku gak mau dong asal-asal nikah hanya bermodal cinta tanpa ada bekal berupa ilmu dan amal. Cari mati namanya, hahaha. Ya, terkadang begitu caraku, terlihat cuek padahal peduli, ya setiap orang punya caranya masing-masing untuk berbenah dan bersiap agar ketika tiba waktunya sudah siap untuk berangkat!

Lagi-lagi, makasih ya udah mau baca tulisan receh ini,, aku gak tahu ada faedahnya atau enggak. Intinyaa, apapun nanti yang menyapa, jodoh terlebih dahulu atau maut kemudian,, yang jelas mempersiapkan adalah sebuah keharusan.


Sepertihalnya tulisan sebelumnya, aku ingin menyampaikan beberapa hal kepada teman-teman semua, khususnya kamu…

“Bukan hal yang aneh ketika ada hal-hal didiri kita yang tidak bisa diterima oleh calon pasangan kita, ayahnya, ibunya dan keluarga besarnya. Maka, untuk siapapun yang membaca tulisan ini, tidak perlu memaksakan diri untuk bisa diterima karena pada esensinya penerimaan itu tidak bisa dipaksakan. Maka, sebelum melangkah ke jenjang berupa pernikahan, jangan lupa untuk mengkomunikasikan terlebih dahulu kepada keluarga terkhusus ibu bapak. Jangan sampai sudah main hati, tapi orang tua tidak bisa menerima, malah ujung-ujungnya sakit hati. Jangan yaa.”

The last,, “Tuhan berikan aku kekuatan untuk tetap berjuang dan bertahan,, agar semua keyakinanku tak akan menjadi sia-sia.”

Selamat bersiap untuk kemudian berangkat!



Comments