Bahagia, berkah, bahagia, berkah. Jadi, bahagia itu apa?!





Bukan bahagia namanya jika tidak ada keberkahan di dalamnya



Malam itu dalam pangkuannya…
“Mamak bahagia menikah sama Bapak?”
“Kok mbak bertanya gitu. Kenapa sayang?”
“Ya, jawabannya pasti bahagia ya. Buktinya anaknya udah 3 besar-besar semua dan udah punya cucu 5, hehe.”
“Jadi, standar bahagia menurut Mbak Nila itu?”
“Emang harusnya apa?”
“Makna kebahagiaan dalam setiap keluarga satu dengan yang lainnya tentu berbeda Mbak. Ada yang bahagia dengan kehidupan yang kaya raya, ada juga yang bahagia meski kehidupannya sederhana, bahkan siapa sangka orang-orang yang kelihatannya kekurangan, nyatanya disitu letak kebahagiaannya. Yang jelas kita tidak bisa menjadikan  kacamata manusia untuk melihat siapa yang paling bahagia, karena yang menurut kita bahagia tapi ternyata dalam proses meraih kebahagiaan itu tidak berkah, maka jatuhnya tidak akan bahagia. Begitupun sebaliknya, yang menurut kita tidak bahagia, tetapi ada keberkahan dalam prosesnya maka sudah dipastikan ia adalah orang paling bahagia di muka bumi ini.”

Kalimat Mamak  ber-resonansi dalam pikiranku hingga terbawa dalam alam  bawah sadarku!
“Keberkahan…”

Pantas saja ketika orang yang baru menikah, doanya adalah, “Baarokallahu laka wabaaroka ‘alaika wajama’a bainakuma fii khairin..”(Semoga keberkahan untukmu dan keberkahaan atas kalian dan mempertemukan kalian berduaa pada kebaikan).

Usai dialog dengan Mamak, aku kemudian bertanya dengan diri sendiri,,
“Sudahkah keberkahan aku capai dalam studiku selama ini? Atau nyatanya selama ini aku hanya menjalankan sesuatu yang membuat Allaah tak ridho padaku?  Sudahkah benar orientasiku ini?Apakah aku sudah memperjuangkan sesuatu yang benar?”
Segala pertanyaan kemudian ber resonansi dalam pikiranku, berkecamuk dan meminta penegasan berupa jawaban atas apa-apa yang telah dilalui. Menyakitkan sekali.

Malam itu ketika Bapak sedang di luar kota menghadiri pernikahan keponakan beliau di Medan, bersebab beliaulah yang menjadi wali pernikahan tsb karena Ayah dari sepupuku tsb sudah tiada. Aku masuk ke kamar Mamak dan melihat wanitaku terbaring pulas dalam tidurnya. Kulihat sudah banyak keriput di wajahnya, nyatanya beliau sudah menua, atau aku yang selama ini terlalu sibuk dan tak sadar.

Ya!  Berpuluh-puluh tahun sudah Mamak membersamai Bapak, tentu sudah banyak asam manis pahit pedas kehidupan yang Mamak rasakan. Terlebih ketika harus menghadapi keluarga besar Bapak yang sangat belum bisa menerima Mamak(dulu). Ketika keluarga besar Bapak menganggap Mamaklah yang menjadi sebab bapak menjadi seorang Muallaf sehingga meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya yang berupa Kristen protestan dan memilih mantap berkeyakinan islam. Hingga pada tahun 2007 setelah melewati kepayahan di awal tahun pernikahan hingga menjelang tahun 2007, segala kebaikan, doa dan ikhtiar Mamak tidak sia-sia, keluarga besar Bapak bisa menerima Mamak walau tidak semuanya, tapi setidaknya itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Mamak memang tidak pernah menceritakan perihal kepayahan-kepayahan yang beliau alami bersama Bapak ke kami putra putrinya, tetapi aku yang nakal karena berani membaca buku diary Mamak tanpa sepengetahuan beliau. Sekarang aku semakin yakin bahwa kemampuanku menulis ini juga hasil differensial dari kebiasaan mamak yang juga suka menulis. Dan, aku juga suka bertanya kepada Bapak tentang kisah kehidupan Bapak dan Mamak, tentang bagaimana awal mereka beertemu, semuanya aku tanyakan, dan dari kisah hidup pria dan wanitaku inilah aku semakin bijak dan dewasa dalam melihat segala sesuatu.

Ya, barangkali adalah iya orang tua itu adalah tempat menimba ilmu yang paling keren!! Pantas saja, Mamak Bapak selalu berpesan kepada aku dan Abang-abang untuk menjadi anak yang cerdas. Karena memang kelak aku dan para Abang akan memiliki anak dan setiap anak itu cerdas dan mereka tentunya butuh orang tua yang cerdas.
Sekarang aku semakin dipahamkan bahwa nyatanya orang tua aku, kamu dan kita dulu sewaktu membangun rumah tangga tentunya memulainya dengan tidak mudah, bahkan beberapa kali mengalami kekurangan dan hingga bisa berada pada kondisi layak seperti ini, jelas karena mereka sudah menempuh waktu yang lamanya bahkan melebih usia kita sebagai seorang anak. Ya, bersebab itulah, ukuran KESIAPAN menjadi penting. Dan tak ada yang salah jika kemudian orang tua kita menjadi khawatir ketika kita memutuskan untuk menikah, bukan tanpa sebab,, hanya saja kita harus bisa menyakinkan beliau dengan keindahan akhlak dan lembutnya tutur kata kita.

 Dan pada prosesnya menuju akhir, semoga apa yang kita perjuangkan itu bisa membuat hidup kita lebih tenang dan damai ketika kita bisa mendapatkan apa yang kita perjuangankan atau bahkan tidak mendapatkannya sama sekali.

Dan, selamat mencari, memaknai definisi keberkahan untuk mencapai kebahagiaan yang ideal berdasar ridhoNya. Semangat!!

#Tulisan ini aku dedikasikan teruntuk “Aku” yang masih terus dan akan terus belajar.



Comments