[Mengangkasa KarenaNya!]




Usaha itu berdurasi, tetapi pertolongan Allaah itu pasti. Setidaknya itu yang aku percayai!




Part 1: Pertolongan Allaah itu pasti!


Harusnya, ketika kamu lolos seleksi untuk menjadi delegasi universitas dan negara untuk mengikuti event yang bertaraf Internasional, harusnya kamu bahagiakan? Tapi tidak bagiku! Aku memang bahagia, tapi kebahagiaan itu perlahan sirna ketika aku tak kunjung menemukan secercah cahaya yang membuatku harus pergi ke Thailand dalam program SEAMEO.

Aku bersyukur ketika kampus berkenan mensupport akomodasi senilai 3,5 juta. Tapi, apakah 3,5 juta adalah akomodasi yang layak untuk 1 bulan di Thailand dan juga tiket PP pesawat? Apakah itu layak? atau bagaimana?

Marah?Bingung? Kecewa? Pusing?Sedih? ayo apalagi? apalagi perasaan yang hendak kamu ekspresikan tapi tak kuasa kamu ungkapkan??

Believe or not, untuk kesekian kalinya, aku mencoba mundur dari permukaan, karena aku menyadari bahwa aku tidak mampu. Tapi untuk kesakian kalinya juga Allaah selalu menguatkan diri ini. Berbicara tentang Allaah, aku selalu merasa hina karena hingga detik ini pula aku belum optimal memaksimalkan waktu dan kesempatan yang IA beri.

Entah bagaimana semua bisa terjadi, alam bawah sadarku memaksa untuk tetap mengambil peluang emas yang sudah ada di depan mata dan bahkan boleh dibilang sudah ada di genggaman, tinggal semua tergantung bagaimana responku, melepaskan atau tetap menggenggam erat peluang itu.

Lantas, bagaimana aku  bisa mendapatkan uang itu??

Yang jelas meminta kepada orang tua bukanlah keahlianku walau kutahu orang tua akan memberikan dana sebesar apapun demi putrinya, tapi maaf, aku terlalu sombong dan angkuh untuk harus meminta uang kepada orang tua.

Dan Allaah adalah sebaik-baik penolong, iya kan? setidaknya itu yang selama ini akui pahami dan mengerti.

Finally, 16 delegasi Indonesia yang akan berangkat ke Thailand membuat sebuah grup whatsapp dan berdasarkan usul dari beberapa orang, menyepakati bahwa akan dibuat sebuah jaket untuk keseluruhan delegasi sebagai identitas diri. Pembuatan jaket itupun hanya wacana belaka, karena hingga beberapa hari tak ada yang mengkoordinir terkait pembuatan jaket tersebut, terlebih jauhnya jarak tiap-tiap delegasi yang berasal dari sabang hingga merauke. Entah bagaimana semua berawal, salah satu orang menunjuk aku untuk menjadi koordinator dalam pembuatan jaket tersebut. Ah, mungkinkah ini bagian dari skenario Allaah? Ya, bagaimana mungkin aku mencintai Allaah dengan sangat biasa sedangkan Allaah begitu mencintai aku dengan sangat luar biasa. Maafkan nila Ya Rabb jikalau pernah terbesit keraguan akan janjiMu.

Tapi lagi-lagi, meski aku menjadi koordinator jaket dan mengambil sedikit keuntungan dari pembuatan jaket hasil kerjasama dengan salah satu konveksi di Yogyakarta. Uang yang aku dapat dari pembuatan jaket nyatanya belum mampu meng cover kekurangan uang untuk pembelian tiket PP pesawat dan biaya hidup selama di Thailand. Ya, aku mendapatkan 450.000 dari hasil pembuatan jaket tersebut. Sedangkan harga tiket PP pesawat ke Thailand semakin naik, ya lebih kurang 5 juta untuk tiket PP pesawat. Ah mustahil sepertinya untuk berangkat. Udahlah Nila nyerah aja!! Gak usah ambis kaya gini kenapa!! Bisa kan ya?

Keyakinan perlahaan semakin runtuh, adalah sebuah keidealisan berbentur dengan realita yang ada. Bahwa ketidakmungkinan adalah jawaban dan mengurungkan kepergian adalah pilihan. Iya kan?
Tetapi nyatanya tidak, Allaah hadirkan orang-orang baik yang berkenan membantu aku. Ya, adalah kak Ari sebagai founder airprasticket yang Allah kirimkan untuk meenolong aku.

"Udah dek lanjut aja, kakak bantu, bismillah ya" lebih kurang itu pesan yang beliau kirimkan ke aku.

3.500.000 adalah uang muka  untuk pembookingan tiket PP ke Thailand, sisanya? aku menyampaikan ke kak Ari untuk membayar setelah kepulangan dari Thailand, walau aku tak tahu dari mana aku mendapatkan uangnya. Tapi keyakinanku tak hanya perlahan tumbuh, tapi seketika menjadi teramat yakin dan percaya akan keajaiban-keajaiban yang tercipta atas  izinNya.

Akhirnya, segala persiapan sudah siap, segala kemungkinan akan ditanggung, segala ketakutan semakin menjadi-jadi. Tapi berangkat adalah sebuah keputusan dan petulangan akan dimulai.

Bermodalkan uang 450.000, aku berangkat ke Thailand. Segala fasilitas dari keluarga aku tinggalkan, atm-atm yang selalu setia meembersamaiku memilih untuk meninggalkanku karena aku yang meminta.
Sebenarnya, aku mendapatkan uang saku dari Abang lebih kurang 1 juta, tetapi uang itu hanya aku simpan. Ya, jadilah 450.000 aku akan bertahan hidup selama 1 bulan di Thailand. Bagaimana? Mampukah aku?

Nantikan cerita selanjutnya ya, tentang bagaimana aku mampu bertahan dengan uang 450.000 di Thailand, dan bagaimana perjuangan selama disana dan tentang pelajaran-pelajaran yang aku dapatkan selama di Thailand.

_______________________
Part 2: Petualangan dimulai!

Hanya Allaah yang tahu perihal isi hati tiap-tiap manusia, tentang ketulusan niat dan keseriusan tekad. Tanggal 31 Juli  2018 seorang anak manja memulai petualangannya, Bandara Adi Sucipto menjadi saksi pengembaraannnya menuju Don Mueang Thailand. Ini  bukan pertama kalinya si anak manja itu berpergian menggunakan pesawat, mungkin sudah kesekian kali bahkan berulang kali.

Apa yang akan kamu lakukan ketika uang 450.000 harus dirampas secara lembut di bandara? Padahal kamu tak punya uang lagi. Padahal hanya uang 450.000 itu yang kamu punya untuk bisa  bertahan di Thailand selama 1 bulan. Lantas, bagaimana jika uang 450.000 berpindah tangan dan tidak lagi menjadi milikmu? Ya, setidaknya itu yang aku rasakan.

Maskapai Air Asia adalah maskapai termurah, pun yang akan mengantarkan aku menuju Thailand. Dan, untuk pertama kalinya aku menggunakan maskapai Air Asia dan ternyata maskapai ini hanya memberikan free kabin 7 kg dan no bagasi. Awalnya aku tenang-tenang saja, mengingat koperku yang teramat kecil dengan satu ransel. Nah, 2 barang itu bisa aku bawa ke kabin sehingga aku tidak butuh bagasi, itu perkiraanku diawal. Dan ternyata aku salah! Seperti yang sudah aku ceritakan di tulisan sebelumnya bahwa aku menjadi koordinator dari pembuatan jaket dan secara tidak langsung aku memiliki tugas untuk membawa serta jaket-jaket itu ke Thailand. Secara  otomatis juga, aku membutuhkan bagasi untuk mengangkut jaket-jaket itu. Dan, tahukah kalian? berapa harga untuk membeli bagasi itu di bandara? Ya, kalian salah! Harganya 450.000 senilai dengan uang yang aku bawa saat itu. Drama macam apa ini!!!

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian setelah aku merelakan uang itu. Ada sesal yang teramat karena dengan sombongnya meninggalkan atm-atm yang seharusnya bisa menjadi penyelamat. Ah, tak perlu ada yang disesali karena semua telah terjadi, Iya kan??

Mundur bukanlah keputusan yang tepat dan maju bukan juga pilihan terbaik. Ya, merendahkan diri dengan serendah-rendahnya, menghinakan diri dengan sehina-hinanya dihadapan Nya adalah langkah yang aku pilih untuk meredam gejolak ketakutan, kekhawatiran dan tangis yang ingin meluap-luap.
Ya, aku butuh peluk, aku butuh dikuatkan, aku butuh diyakinkan, aku butuh, aku butuh, butuh dan sangat butuh kalian kala itu.

Mungkin ini cara Allaah agar aku kembali kepadaNya, ketika manusia tak lagi bisa menolong, setidaknya aku masih punya Allaah yang kan selalu ada untukku. setidaknya itu yang aku percayai.

Setelah transit beberapa jam di Jakarta, finally pesawat yang aku tumpangi mendarat dengan gagah di Don Mueang Airport, Thailand.

Mendaratnya pesawat Air Asia juga turut serta mendaratkan ketakutan yang awalnya berada di puncak ketinggian, Setidaknya aku telah mengusahakan dengan sebaik-baik upaya dan sekarang biarkan Allaah yang menjalankan perannya. Aku percaya itu.

Setibanya di Thailand, aku membicarakan perihal kejadian yang aku alami selama di bandara. Perihal uang 450.000 yang aku  gunakan untuk pembelian bagasi. Alhamdulillah, Allaah melembutkan hati 15 orang tersebut dan berkenan mengganti uang bagasi tersebut.  450 ribu yang hilang diganti dengan 1000 bath yang datang. Ya, dengan uang 1000 bath aku akan survive selama 1 bulan di Thailand.

Berada di lingkungan yang sangat jauh dari peradaban islam, yang mana mayoritas penduduknya beragama budha, semakin membuat dosis kesurvivean semakin meninggi. Terlalu sulit untuk diceritakan, terlalu indah untuk dilupakan dan terlalu sakit untuk diulang. Biarlah semuanya menjadi cerita yang terpatri di memori dan bersemayam di hati.

Teman, hikmah yang bisa diambil dari sedikit kisah di atas adalah tentang sebuah KEYAKINAN!
Keyakinan bahwa Allaah akan menolong hambaNya yang tak henti berikhtiar dan berdoa serta percaya akan skenario yang telah IA tetapkan.

Yakinlah, bahwa Allaah tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hambaNya, percayalah bahwa selalu ada balasan dari setiap usaha yang telah kita lakukan! Yang jelas, terus melakukan yang terbaik! Libatkan IA dan selalu jaga Allaah dalam diri kita dan yakinlah Allaah akan selalu jaga kita.

Dan, jikalau suatu hari nanti seluruh manusia di muka bumi ini meninggalkan kita. Dan adalah Allaah yang selalu ada menjaga kita! Dan seharusnya, akan menjadi damai dan tenanglah hati kita ketika Allaah selalu menjadi prioritas kita. Bukankah demikian?

Maka, tidurlah untuk bermimpi dan bangunlah untuk mewujudkannya!




#Selamat Menginspirasi
#Seameo
#Seateacher
#MudaMengangkasa
#MuslimahMendunia
#MaasyaaAllaah
#TabarakAllaah

IG: @nilamengangkasa_

Comments