![]() |
| Cintaku padamu tak berdurasi, karena cinta ini berasaskan Illahi |
Bukankah Allaah begitu mencintai kita dengan sangat luar biasa, nak? Buktinya Allaah anugerahkan pada kita kenikmatan fisik yang sempurna, energi yang begitu luar biasa, dan aneka nikmat yang sungguh tak terkira. Lantas, sudah sejauh mana letak syukur kita?
Nak, bukankah daun-daun yang berjatuhan sudah pasti atas izin dariNya? Pun pertemuan antara kamu dengan para manusia diluaran sana adalah bagian dari SkenarioNya? Yang mana kamu harus percaya bahwa hadirnya mereka dalam kehidupanmu, pastilah membawa aneka pelajaran yang begitu berharga.
Wahai anakku, maka bersyukurlah, Allaah perkenankan kamu bertemu mereka untuk mengambil banyak pelajaran hidup yang barangkali tidak akan kamu temukan tanpa hadirnya mereka. Maka, teruslah menjadi pribadi pembelajar ya nak, yang tak henti berproses menjadi pribadi yang anggun dalam akhlak, pun cerdas dalaam bertindak.
Anakku, permata hatiku...
Ketahuilah, hadirnya mereka dalam hidupmu seringkali mempermainkan perasaanmu, merusak pikiranmu, mengesampingkan mimpimu. Tapi, lagi lagi, mereka hadir karena Allaah, karena Allaah dan karena Allaah, nak.
Anakku, cintailah mereka sebagaimana cintaNya Allaah padamu. Bersikap lembutlah pada teman wanitamu, dan bersikap tegaslah pada teman priamu. Tunjukkan akhlak yang baik pada orang yang membencimu, dan kasihilah orang yang mencintaimu. Dan jadikan Allaah sebagai alasan kenapa kamu mencintai mereka, agar dalam perjalanan mencintai itu tidak ada kontrak kekecewaan atas dasar pengharapan.
Nak, hidup ini bukan hanya tentang dirimu, tapi bagaimana hadirnya dirimu mampu memberikan kebaikan untuk sekeliling. Maka, sudah sejauh mana cinta yang kamu tebarkan? Sudah setulus apa cinta itu? Dan, masih adakah keberpengharapan?
Ceritamu hari itu disaat kefuturan melandamu, engkau izin kepadaku meninggalkan kota teduh Yogyakarta menuju kota gaduh Solo. Gimana tidak gaduh, nama stasiunnya saja solo balapan.
Kamu mengajak turut serta dua temanmu. Bersepakat pukul 9 kalian akan berangkat. Sebelum pukul 9, kamu sudah tiba di stasiun lempuyangan, memesan 3 tiket untuk kamu dan dua orang temanmu pula. Pukul 8.30 kamu menjemput temanmu, dan ternyata dia belum bersiap dan bahkan belum mandi sekalipun. Pukul 8.55 kamu dan dia baru berangkat dan satu orang temanmu lagi memutuskan untuk berjumpa langsung di stasiun. Disepanjang pejalanan, temanmu tak henti meminta maaf, kamu hanya tersenyum dan mengatakan tak apa. Bibirmu terus bergerak, ternyata kamu tak henti melantunkan ayat suciNya, dan entah keajaiban dari mana, perjalananmu begitu mulus adanya tanpa hambatan macet, pun lampu merah sekalipun. Ya, kamu tiba di stasiun lempuyangan tepat waktu! Apakah itu bukti dari cinta?
Tiba di kota gaduh, Solo. Kamu menuju tempat yang akan kalian tuju, FK nama tempat itu, untuk menghadiri seminar kepenulisan yang diadakan oleh suatu komunitas bernama bismillah. Sebenarnya, tujuanmu bukan itu, tapi tentang bagaimana membaikkan hati yang perlahan mulai mengeras melalui sebuah perjalanan. Iyakan?
Usai acara, kalian memutuskan pulang. Tiket prameks siang sudah habis, adanya sore pukul 18.55(kalau tidak salah wkwkkw). Usai shollat maghrib, pukul 17.55 ada kereta prameks yang akan membawa penumpang menuju kota tujuan.
"Yuk naik kereta itu aja, kita menyelinap masuk hehe." Candamu
Entah keajaiban dari mana, canda itu berujung nyata. Kereta pukul 17.55 adalah kereta yang akan membawamu menuju kota teduh Yogyakarta! Ah, apakah ini juga bukti dari cinta?
Ketika ucap canda saja berujung nyata, apalagi ucap serius penuh sungguh.
Ya, ada cinta di kota gaduh bernama solo!
#AliveInspire
#MemaknaiPeristiwa
#MenebarInspirasi
#MudaMengangkasa
IG: nilamengangkasa_

Comments
Post a Comment